Sabtu, 24 Desember 2011

Graduation Day



Graduation day atau hari wisuda .....

Selama menempuh masa-masa kuliah, hari wisuda adalah hari yang sangat ditunggu, bukan hanya oleh diri sendiri, tapi juga oleh orang tua dan bahkan kerabat.
Dua kali menempuh masa studi di bangku kuliah, mengalami 2 kali pula graduation day. Tapi keduanya memiliki kesan yang sangat berbeda. 

Pertama kali akan wisuda, mama mulai menyiapkan semuanya setelah sidang meja dilewati. Mulai dari kebaya, sepatu sampai pesan ibu salon untuk make-up dan sanggul. Rasanya sudah heboh sekali. Waktu hari H wisuda, subuh-subuh udah ke salon berdua dengan mama untuk dirias (*secara.. cewek kan lebih ribet*). Setelah itu, berangkat ke auditorium. 
Hmmm... rasanya bangga juga waktu dipanggil ke podium untuk dipindah kucir toga, apalagi setelah acara pindah kucir selesai muncul artis Tere yang nyanyi. Bersyukur waktu wisuda bisa duduk di bangku deretan depan jadi bisa lebih jelas liat artis Jakarta hehehe.... 
Wisuda yang pertama ini berlangsung dari pagi sampai matahri terbenam, karena berlangsung 2 kali wisuda (universitas dan fakultas) secara berurutan. Sayang, wisuda ini tidak bisa dihadiri kakak pertama, jadi ga punya foto sekeluarga saat memakai toga.

Setelah 4 tahun berlalu, akhirnya kembali menjadi mahasiswa untuk kedua kalinya. Karena strata kali ini lebih tinggi, maka waktu kuliah jadi lebih singkat dan alhamdulillah meski terlambat 1 bulan, tapi masih bisa tepat waktu menyelesaikannya. 
Wisuda kedua yang tidak dilaksanakan di kota sendiri, terpaksa disiapkan sendiri. Mulai mencari baju wisuda yang dirasa cukup simple dan nggak ribet alias bisa sekali pakai, sepatu yang juga simple dan tidak berbahaya saat jalan ke podium (*secara kakinya kaki preman, jadi tidak pernah menyimpan sepatu/sandal yang feminin*). 
Nah yang terakhir ni... Rias make up dan jilbab yang bingung. Jauh dari mama dan ngga tau salon mana yang lebih dekat dengan kos. Masak pagi-pagi buta naik motor ke salon cuma buat rias.. Ck ck ck... Ngga terbayang deh.. Untung mama bisa datang dan hadir ke wisuda, jadi rias sudah ada solusi. Yup.... memakai riasan orisinal karya mama tercinta   ^_^  tinggal latihan melilit-lilitkan jilbab dengan cepat dan mudah, tapi tetap anggun...
Wisuda kedua hanya berlangsung dari pagi sampai siang dan hanya berdua dengan mama, jadi sekali lagi ngga ada foto wisuda dengan keluarga. Meski begitu, keakraban dengan teman-teman lebih bisa dirasakan ketika wisuda kedua ini. Secara sekelas hanya ber-16 dan kebetulan yang wisuda saat itu hanya 2 orang, termasuk diri sendiri. Teman-teman datang dan memberi bunga, bahkan termasuk kawan yang sudah sibuk bekerja, rela menukar cuti untuk datang ke wisuda (meskipun ada alasan lain juga sih hehehe....)

Dua kali wisuda dengan dua kali perbedaan rasa dalam hati...
Meski keduanya tidak bisa dihadiri oleh seluruh keluarga, tapi tetap bersyukur dan senang bisa merayakan kelulusan dengan ceremony ini.



Wisuda...
Ceremony yang sederhana, dan boleh tidak dihadiri kalau mau
Tapi haru diakui, ceremony ini menyimpan sejuta kenangan yang selalu akan diingat...


Selamat kepada semua wisudawan...
Jangan lupakan ilmu dan kenangan-kenangan yang tersimpan pada acara sederhana ini





Jumat, 18 November 2011

Recepies : Daging Pedas Saus Bolognise

Iseng-iseng memanfaatkan bahan-bahan yang ada di kulkas, eh ternyata rasanya lumayan juga... Daging jadi terasa asem-asem pedes...

Resepnya :
Bahan-bahan :
1.  daging sapi (boleh diganti yang lain juga)
2.  bawang merah
3.  bawang putih
4.  kunyit
5.  cabe merah
6.  irisan daun bawang
7.  sedikit merica bubuk
8.  air
9.  saus bolognise
10.kecap


Caranya :
1.  daging sapi diiris tipis
2.  bawang merah, bawang putih, kunyit, cabe merah itumbuk sampai halus lalu
     dibagi menjadi 2 bagian
3.  bagian pertama dari bumbu halus digunakan untuk membalur daging
     sapi satu per satu sambil daging dipipihkan lalu daging dibiarkan beberapa
     menit supaya bumbu meresap
4.  setelah daging siap, tumis bumbu halus yang masih tersisa
5.  tambahkan garam dan saus bolognise
     (saus bolonise jangan terlalu banyak ya..)
6.  supaya warnanya sedikit lebih menarik, tambahkan sedikit kecap
7.  setelah bumbu tumis wangi, masukan daging
8.  aduk perlahan sampai daging mengeluarkan air kaldunya
9.  tambahkan sedikit air, lalu aduk lagi perlahan
10.setelah daging agak empuk, masukkan irisan daun bawang dan merica bubuk
11.biarkan hingga air tinggal sedikit dan daging benar-benar empuk


nah... sederhana khan, tidak ada salahnya juga dicoba. takaran masing-masing bumbu lebih baik menyesuaikan selera masing-masing


selamat mencoba.... ^_^





















ijin ya share gambarnya : 
http://mezzojecka.blogspot.com/2010/05/about-me-ceritanya-ilustrasi-nya-gitu.html



Selasa, 11 Januari 2011

Tauladan Nabi...

Di suatu tempat ada cerita :
      "Ayahku selalu memukul ibu ketika mereka bertengkar, selalu terdengar cacian"
      "Papa selalu mengungkit kesalahan-kesalahan mama yang sudah lalu dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya" 
      "Tidak pernah ada kata 'maaf' terlontar dari bibir papa ketika dia melakukan kesalahan. Justru papa mencari dan membuat-buat kesalahan untuk mama"
      "Ibu selalu begitu, marah pada bapak kalo uang bulanan kurang. Selalu uang yang jadi pertengkaran mereka"

Di tempat lain juga ada cerita :
      "Aku belum pernah melihat ayah bunda bertengkar"
      "Ayah sering berkata 'Ibumu adalah belahan jiwa ayah'"

*********************************

Keduanya fenomena yang ada dan nyata dalam kehidupan. Dua fenomena yang sangat bertolak belakang dalam keluarga. Tetapi bagaimana yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri dalam bahteranya ?

Sebagai suami, Rasullulah memberikan teladan :
1. Menghormati wanita, terutama istri. Bahkan Rasullulah juga bersabda "Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia; dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina.” 
2. Bersikap lemah lembut dan kasih sayang pada istri. Tidak hanya dari perkataan, tapi juga dari sikap. Rasullulah juga tidak mengkritik hal-hal yang tidak berguna, memaafkan, dan memperbaiki kesalahan istri dengan lembut dan sabar. Bahkan Aisyah sendiri mengatakan “Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat, dia pergi shalat.”
3. Lapang dada dan sangat toleransi

Sedangkan sebagai istri, Khadijah memberi teladan :
1. Mendukung suami dalam segala hal yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran. “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selainnya.” (Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya)
2. Setia dan taat pada suami
3. Bahkan rela mengorbankan kesenangannya demi kesenangan suaminya, dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan 

Teladan tersebut mudah diucapkan, mudah dituliskan, tetapi tidak dalam pelaksanaannya. Tetapi jika alasan dasar mengarungi bahtera rumah diingat kembali, dan dipahami, bukan tidak mungkin itu tercapai.

"Sayangilah pasanganmu, karena tanpa kau sadari kau tidak bisa hidup tanpa dia"
"Kasihilah dan bimbinglah pasanganmu, karena sesungguhnya ketika berikrar sehidup semati, maka dialah kekasihmu, pendampingmu, tanggungjawabmu, dan pintu surgamu"
"Cintailah pasanganmu, sebelum Allah memutuskan untuk memisahkan kalian sementara waktu"



Related Cite :
 Bugi, M. 2008. Sepasang Suami-Istri Teladan. http://www.dakwatuna.com/2008/sepasang-suami-istri-
                        teladan/