Berbicara tentang masa lalu...
Siapapun pasti pernah memilikinya, karena masa lalu adalah bukti bahwa seseorang pernah exist dan ada di dunia. Bila masa lalu itu suatu kenangan indah dan manis, pasti akan menjadi kenangan yang selalu disimpan, dirawat dan diingat dengan baik. Tapi bila masa lalu itu buruk ???
Seperti sebuah kotak pandora...
Banyak orang bijak berpendapat, bahwa masa lalu adalah pembelajaran hidup yang paling berharga, apa pun bentuk kenangan itu. Ada juga pendapat dan termasuk nasehat yang paling sering diucapkan... Bahwa masa lalu, baik atau buruk, bukan untuk dilupakan. Tapi untuk sesekali ditengok sehingga tidak mengulang lagi kesalahan yang sama.
*Yup.. Hati ini pun sering juga menasehati logika dan nurani sendiri dengan pendapat yang sama seperti itu*
Karena itu, tidak perlu berusaha mati-matian untuk menghilangkan masa lalu, sebab itu tidak akan terjadi. Tapi selalu mencoba memandang masa lalu dari sudut pandang yang berbeda, sehingga tidak menyebabkan keterpurukan, melainkan menjadi semangat untuk bertahan.
Tapi benarkah masa lalu hanya menjadi pelajaran?
Tampaknya tidak selalu...
Ketika diri berusaha tetap melangkah, tak sengaja mendengar orang lain bergosip dengan tawa renyah mereka tentang masa lalu yang sudah dengan susah payah diubah menjadi pelajaran hidup.
Saat itu, baru tersadar. Ternyata masa lalu bagai pisau bermata dua. Menjadi kenangan yang mungkin ingin dilupakan bagi yang memiliki, sehingga dengan seluruh kekuatan hati dan tekad berusaha slalu berpikir positif untuk benar-benar menjadikannya sebagai bagian hidup yang berharga. Tapi bagi orang lain, juga dapat menjadi madu yang sangat manis dan nikmat untuk mencari kelemahan.
Huffff.... Sekali lagi...
Setelah sekian lama...
Hanya bisa memejamkan mata, menghela napas sedalam mungkin, berucap istighfar sebanyak mungkin, sehingga hati menjadi tenang, kuping menjadi dingin, dan energi terpusat pada logika positif yang kemudian ditransfer ke nurani. Kemudian yang bisa dilakukan hanya berusaha tetap menengadahkan kepala dan melangkah dengan mulut terkunci rapat.
Yah... Sekali lagi..
Hanya bisa diam.
Lahaula walakuwata ilabillah...
Terimakasih ya Rabb.. Karena ijin dan ridho-Mu yang menjadikanku selalu membutuhkan-Mu dalam hidup ini, lebih dari apa pun...
Siapapun pasti pernah memilikinya, karena masa lalu adalah bukti bahwa seseorang pernah exist dan ada di dunia. Bila masa lalu itu suatu kenangan indah dan manis, pasti akan menjadi kenangan yang selalu disimpan, dirawat dan diingat dengan baik. Tapi bila masa lalu itu buruk ???
Seperti sebuah kotak pandora...
Banyak orang bijak berpendapat, bahwa masa lalu adalah pembelajaran hidup yang paling berharga, apa pun bentuk kenangan itu. Ada juga pendapat dan termasuk nasehat yang paling sering diucapkan... Bahwa masa lalu, baik atau buruk, bukan untuk dilupakan. Tapi untuk sesekali ditengok sehingga tidak mengulang lagi kesalahan yang sama.
*Yup.. Hati ini pun sering juga menasehati logika dan nurani sendiri dengan pendapat yang sama seperti itu*
Karena itu, tidak perlu berusaha mati-matian untuk menghilangkan masa lalu, sebab itu tidak akan terjadi. Tapi selalu mencoba memandang masa lalu dari sudut pandang yang berbeda, sehingga tidak menyebabkan keterpurukan, melainkan menjadi semangat untuk bertahan.
Tapi benarkah masa lalu hanya menjadi pelajaran?
Tampaknya tidak selalu...
Ketika diri berusaha tetap melangkah, tak sengaja mendengar orang lain bergosip dengan tawa renyah mereka tentang masa lalu yang sudah dengan susah payah diubah menjadi pelajaran hidup.
Saat itu, baru tersadar. Ternyata masa lalu bagai pisau bermata dua. Menjadi kenangan yang mungkin ingin dilupakan bagi yang memiliki, sehingga dengan seluruh kekuatan hati dan tekad berusaha slalu berpikir positif untuk benar-benar menjadikannya sebagai bagian hidup yang berharga. Tapi bagi orang lain, juga dapat menjadi madu yang sangat manis dan nikmat untuk mencari kelemahan.
Huffff.... Sekali lagi...
Setelah sekian lama...
Hanya bisa memejamkan mata, menghela napas sedalam mungkin, berucap istighfar sebanyak mungkin, sehingga hati menjadi tenang, kuping menjadi dingin, dan energi terpusat pada logika positif yang kemudian ditransfer ke nurani. Kemudian yang bisa dilakukan hanya berusaha tetap menengadahkan kepala dan melangkah dengan mulut terkunci rapat.
Yah... Sekali lagi..
Hanya bisa diam.
Lahaula walakuwata ilabillah...
Terimakasih ya Rabb.. Karena ijin dan ridho-Mu yang menjadikanku selalu membutuhkan-Mu dalam hidup ini, lebih dari apa pun...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar